Halaman

Senin, 29 Oktober 2012

puisi untuk bapa ku

disinitercinta
dimana
bapaku



















hikmah kurban

Hikmah Qurban

  Sebelumnya saya dan sekeluarga mengucapkan “Selamat Hari Raya Iedul Qurban 1433 Hijriyah. Semoga yang diberi kesempatan ibadah Haji meraih Mabrur, yang belum semoga suatu saat diberi kemampuan dan kemauan untuk melaksanakannya. Serta yang beribadah Qurban semoga amalnya diterima dan yang belum semoga suatu saat diberi kemampuan dan kemauan untuk melaksanakannya.” Amin.

Dahulu Nabi Adam memiliki keturunan berpasang-pasangan, alias kembar. Anak kembar nabi Adam terbilang unik, yakni berjenis kelamin laki-laki dan perempuan. Setiap terlahir anaknya maka sikembar memiliki jenis kelamin yang berbeda.
Putra pertama nabi Adam diberi nama Qabil dan Iklima. Qabil seorang pemuda yang kuat dan berwatak keras, oleh karenanya ia diberi pekerjaan sebagai petani. Sedang Iklima adalah perempuan yang berparas cantik. Putra kedua nabi Adam diberi nama Habil dan Labudda. Habil berwatak lembut dan penyabar, oleh karenanya ia diberi pekerjaan sebagai peternak. Sedang Labudda tidak secantik Iklima. Begitu seterusnya anak nabi adam terlahir kembar.
Tibalah masa dewasa, mereka tentu memiliki sense terhadap lawan jenisnya. Maka nabi Adam bermunajat kepada Allah swt memohon petunjuk bagaimana cara terbaik untuk menikahkan putra-putrinya. Sementara belum ada manusia lain untuk dijadikan besan. Maka Allah swt memberi petunjuk bahwa perkawinan bisa dilakukan dengan cara silang. Qabil dipasangkan dengan Labudda, dan Habil dengan Iklima. Dan dilarang menikah dengan sesama saudara kembarnya.
Kebijakan tersebut kemudian disampaikan pada putra-putri beliau. Habil, Iklima, dan Labudda merespon dengan baik. Sementara Qabil menolak. Ia merasa lebih berhak untuk menikah dengan kembarannya, Iklima. Disatu sisi Qabil juga menyadari bahwa Iklima lebih cantik dari Labudda.
Penolakan Qabil membuat nabi Adam kembali mengadukan masalah itu pada Allah swt. Sehingga Allah swt kembali mengeluarkan keputusannya. Qabil dan Habil diminta untuk ber-Qurban dengan hasil kerja masing-masing. Qabil dengan hasil kebunnya, sementara Habil dengan hasil ternaknya.
Qabil memilih hasil kebunnya dari kualitas yang kurang baik. Ini didasari rasa berat hatinya untuk ber-qurban. Sementara Habil memilih domba peliharaan yang terbaik. Karena Habil selain berwatak lembut ia pun mudah untuk melaksanakan setiap perintah ibadah yang diperintahkan. Tibalah masa ber-qurban. Qurban itu ditempatkan di suatu lokasi tertentu.
Keesokan harinya nabi Adam mendapat wahyu dari Allah swt bahwa qurban Habil diterima sementara Qabil tertolak. Maka murkalah Qabil dan ia akhirnya membunuh saudaranya itu.
Hikmah yang bisa dipetik dari kisah di atas adalah setiap manusia bisa jadi memiliki amal yang sama, beban yang sama, waktu yang sama, namun nilai di sisi Allah swt bisa jadi berbeda. Mengapa? Karena itu semua tergantung dari cita rasa hati dalam melaksanakannya. Barangsiapa yang melaksanakan suatu amal atas dasar ikhlas dan hati yang lapang maka amalnya tentu berbeda dengan yang tidak ikhlas serta merasa terbebani dengannya. Bisa jadi hari ini dari sekian banyak pe-qurban, ada yang qurbannya diterima Allah swt dan ada yang tidak.
Oleh karena itu sahabat kompasianer sekalian saya mengajak kepada diri saya sendiri dan anda semua untuk kembali mengevaluasi terkait cita rasa hati kita akan setiap amal ibadah dan amal sholeh yang kita lakukan. Semoga kita senantiasa diberi kekuatan untuk melaksanakan setiap amal ibadah serta amal sholeh dengan ikhlas dan hati yang lapang.
Semoga bermanfaat.

Senin, 01 Oktober 2012

menengok orang sakit

ada satu hal yang sempat dipesan oleh sang ustadz saya, ketika menjenguk orang sakit alangkah baiknya jika tidak menerima pemberian apapun, seperti makanan atau minuman misalnya..

dan begitu pula kepada keluarga si sakit untuk tidak menyuguhkan makanan dan minuman, yang justru akan membuat repot kemudian..

bahkan dapat menghilangkan pahala jika kita menerima suguhan tersebut.. :)

Selasa, 25 September 2012

puisi tentang ibu

Buat mak

Aku ingat lautan yang pecah dimatamu
sewaktu aku menuju jauh lepas diderit pintu
dan wewangian nafasmu yang menyapu mukaku
pada dendang penghantar kantuk sebelum subuh
aku ingat itu
ada yang tak terserap waktu
kecupan lembut dikeningku
hangatnya sungguh tak lekang dari jiwaku
aku rindu dan rindu
mak…
aku ingin kembali pada purnama yang telah jauh
pada piawai jemarimu yang lembut mengusap rambutku
barang sekejappun aku rela
aku hanya ingin mengulang ritual menyiangi rerumputan dilaman
menyusuri pematang dengan gelak kanak kanakku di pangkuanmu
mak…
rinduku memuncak, sangat…!
padamu…
pada kekasih abadi, hidup dan mati